Bayi & Anak-AnakPenyakit A-Z

Tuberkulosis (TBC) Pada Anak-anak

TBC pada anak

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri TBC yaitu Mycobacterium tuberkulosis. Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, namun dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

Baca Juga:

rapid test

Indonesia merupakan negara yang termasuk sebagai 5 besar dari 22 negara di dunia dengan beban TBC. Saat ini timbul kedaruratan baru dalam penanggulangan TBC, yaitu maraknya TB Resisten Obat (Multi Drug Resistance/ MDR).

Bagaimana Dengan Tuberkulosis (TBC) Pada Anak?

Menurut perkiraan WHO pada tahun 1999, jumlah kasus TBC baru di Indonesia adalah 583.000 orang per tahun dan menyebabkan kematian sekitar 140.000 orang per tahun.

World Health Organization memperkirakan bahwa TBC merupakan penyakit infeksi yang paling banyak menyebabkan kematian pada anak dan orang dewasa. Kematian akibat TBC lebih banyak daripada kematian akibat malaria dan AIDS.

Gejala Tuberkulosis (TBC) Pada Anak 

Anak kecil seringkali tidak menunjukkan gejala klinis atau keluhan khas TBC walaupun sudah tampak abnormalitas pada foto x-ray. Gejala umum TBC pada anak dapat berupa:

1. Penurunan nafsu makan disertai gagal tumbuh (failure to thrive)

Berat badan mungkin turun selama 2-3 bulan berturut- turut tanpa sebab yang jelas, atau tidak naik dalam 1 bulan setelah diberikan upaya perbaikan gizi yang baik.

2. Demam lebih dari 2 minggu

demam lama ≥ 2 minggu tanpa sebab yang jelas (bukan demam tifoid, infeksi saluran kemih, malaria, dan lain lain). Demam umumnya tidak tinggi (subfebris) dan dapat disertai keringat malam.

3. Lesu

Anak menjadi kurang aktif bermain. Batuk lama atau persisten ≥ 3 minggu, serta keringat pada malam hari.

Diagnosis Tuberkulosis Pada Anak

Untuk mempermudah diagnosis TBC pada anak, dikembangkan sebuah sistem skoring diagnosis TBC untuk membantu tenaga kesehatan agar tidak terlewat dalam mengumpulkan data klinis maupun pemeriksaan penunjang sederhana sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya underdiagnosis maupun overdiagnosis.

Semua bayi dengan reaksi cepat (< 2 minggu) saat imunisasi BCG harus dievaluasi dengan sistem skoring TBC anak. 

Skoring TBC anak didasarkan pada beberapa hal yaitu:

  • Adanya kontak dengan penderita TBC
  • Uji Tuberkulin (Mantoux) positif ataukah negatif
  • Adanya penurunan BB/keadaan gizi
  • Demam yang tidak diketahui penyebabnya
  • Batuk kronik
  • Adanya pembesaran kelenjar limfe pada regio leher, ketiak, dan selangkangan
  • Adanya pembengkakan tulang/ sendi panggul lutut, falang, dan pemeriksaan x-ray  

Semua poin tersebut memiliki nilainya sendiri. Anak dinyatakan probable TBC jika skoring mencapai nilai 6 atau lebih. Anak sebaiknya segera dibawa berobat untuk mencegah perburukan.

Sementara anak usia balita yang mendapat skor 5, walaupun memiliki gejala klinis yang tidak mengarah pada TB (tidak batuk ataupun tidak demam), maka sebaiknya tetap dibawa ke rumah sakit untuk evaluasi lebih lanjut.

Namun jika ada anak yang kontak dengan pasien BTA positif dan uji tuberkulinnya positif namun tidak didapatkan gejala, maka anak cukup diberikan profilaksis Isoniazid, terutama anak balita. 

Uji tuberkulin cara Mantoux dapat dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang untuk salah satu skoring. Uji ini dilakukan dengan menyuntikkan 0,1 ml antigen bagian lengan. Hasil dievaluasi dalam  48−72 jam setelah penyuntikan. Pengukuran dilakukan terhadap indurasi yang timbul.

Selain ukuran indurasi, perlu dinilai tebal tipisnya indurasi dan perlu dicatat jika ditemukan vesikel hingga bula. Secara umum, hasil uji tuberkulin dengan diameter indurasi ≥10 mm dinyatakan positif.

Bagaimana Cara Pencegahan TBC?

Apabila kita menemukan seorang anak dengan TBC, maka harus dicari sumber penularan yang menyebabkan anak tersebut tertular TBC.

Sumber penularan adalah orang dewasa yang menderita TBC aktif dan kontak erat dengan anak tersebut. Pelacakan sumber infeksi dilakukan dengan cara pemeriksaan radiologis dan BTA sputum keluarga dekat.

Karena penularan TBC sangatlah cepat melalui air liur/ ludah dari pasien yang terinfeksi, sebaiknya jika ada anggota keluarga yang terkena diberikan masker dan peralatan makan dan minum sendiri.

Bagaimana Cara Mengobati TBC?

Pengobatan TBC didasarkan pada obat anti tuberkulosis yang adekuat. Karena pengobatan yang cenderung lama, banyak pasien yang gagal terapi dan malah menjadi resisten obat. Kunci kesembuhan TBC adalah kepatuhan minum obat dari pasien itu sendiri.

Obat AntiTuberkulosis (OAT) harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Obat ditelan sekaligus (single dose) dalam keadaan perut kosong. Fixed Dose Combination sendiri terdiri dari 4 OAT utama, yaitu Isoniazid, Rifampicin, Pirazinamid, dan Etambutol. Jika pengobatan lini pertama gagal, pengobatan lini kedua akan menggunakan tambahan Streptomisin. 

Semua pasien (termasuk mereka yang terinfeksi HIV) yang belum pernah diobati harus diberi obat lini pertama. Semua pasien harus dimonitor respons pengobatannya. Indikator penilaian terbaik adalah pemeriksaan dahak (sputum) berkala yaitu pada akhir tahap intensif, bulan ke-5, dan akhir pengobatan.

Dosis OAT Fixed Dose Combination tergantung dari berat badan. Jangan lupa meminta penjelasan dan kalau perlu mencatat berapa jumlah obat yang harus minum dalam sehari, karena hal ini sangat penting dalam kepatuhan pengobatan. 

Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap awal dan lanjutan.

  • Pada tahap awal pasien mendapat pasien yang terdiri dari 4 jenis obat (rifampisin, isoniazid, pirazinamid  dan etambutol), diminum setiap hari selama 2 bulan dan diawasi secara langsung oleh perawat/care taker/anggota keluarga untuk menjamin kepatuhan minum obat dan mencegah terjadinya kekebalan obat yang sering kali disebut sebagai MDR TB (Multi-drug-resisten TB). Resistensi dapat terjadi pada satu atau dua jenis OAT. 
  • Pada tahap lanjutan pasien  mendapat 2 jenis obat (rifampisin dan isoniazid), namun dalam jangka waktu yang lebih lama (minimal 4 bulan). Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.

Dokter mungkin saja mengubah regimen ataupun dosis ditengah pengobatan jika selama periode evaluasi tidak menunjukan perbaikan atau malah terjadi perburukan.

Pasien dikatakan sembuh jika pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan telah mejalanai pemeriksaan mikroskopis sputum pada saat follow up dengan hasil negatif pada dua kali pemeriksaan.

Jika si kecil menunjukkan gejala-gejala di atas, jangan ragu untuk mengonsultasikannya ke dokter menggunakan Okadoc ya!

Kamu bisa tanya jawab dokter dan konsultasi lewat video call untuk berbagai masalah kesehatan lho! Yuk download aplikasi Okadoc sekarang juga di Play Store dan App Store.

konsultasi virtual
Related posts
Bayi & Anak-AnakKesehatan

Apa Obat Sakit Gigi Anak yang Manjur?

Penyakit A-Z

Bronkitis Akut; Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Penyakit A-Z

Rheumatoid Arthritis: Gejala, Faktor Resiko dan Pengobatan

Bayi & Anak-AnakKesehatanPriaWanita

Ini Bahaya Jika Terlalu Sering Makan Mie Instan