Penyakit A-Z

Penyakit EMM: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Penyakit EMM

Masih ingat kasus pingsannya model sekaligus musikus Al Ghazali di dalam mobilnya tahun 2018 silam? Ya, kejadian yang menimpa anak sulung dari musisi Ahmad Dhani dan Maia Estianty tersebut disinyalir karena penyakit EMM yang ia derita.

Sebelumnya, tak banyak orang yang mengetahui penyakit yang satu ini. Menurut berita yang beredar, Al Ghazali sendiri baru menyadari bahwa ia mengidap EMM setelah dibawa ke rumah sakit akibat pingsan.

rapid test

Baca Juga:

Padahal, meskipun jarang sekali terjadi, EMM tergolong penyakit yang tak bisa dipandang sebelah mata, perlu perhatian dan perawatan khusus ketika kita mengidap penyakit yang satu ini.

Lantas, apa sih sebenarnya penyakit EMM? Bagaimana gejalanya, dan dapatkah pengidap EMM disembuhkan? Untuk mengetahui lebih lengkapnya, simak penjabaran di bawah ini.

Mengenal Penyakit EMM dan Penyebabnya

Penyakit EMM

Penyakit EMM sendiri merupakan jenis penyakit Erythema Multiforme (EM), sebuah penyakit kulit yang bisa terjadi pada siapa saja namun cukup langka ditemukan, dipersentasenya hanya 1:1500 orang.

Pada umumnya, penyakit ini banyak menyerang anak-anak, gejala EM biasanya muncul pada orang dewasa di rentan usia 20-40 tahunan. Selain itu, EM diketahui lebih banyak menyerang kaum laki-laki daripada perempuan.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnyam EM terbagi atas dua jenis, yakni Erythema Multiforme Minor dan Erythema Multiforme Major (EMM). Dampak EM major diketahui lebih berat daripada minor, sebab dapat memengaruhi mulut, mata, bahkan alat kelamin.

Apabila melihat dari kasus Al, pada sebuah sesi wawancara Ahmad Dhani ayahanda dari Al menyebutkan, bahwa penyakit yang diderita oleh anaknya disebabkan oleh faktor keturunan, Dhani sendiri mengaku jika ia mengalami penyakit yang sama dengan anaknya tersebut.

Lantas, apakah benar penyakit EMM diturunkan dari silsilah keluarga? Jawabannya tidak. Pasalnya, EM disebabkan oleh infeksi virus herpes simplex yang dapat mengakibatkan sarian atau infeksi virus lainnya yang menyerang sel-sel kulit di badan.

Selain itu, EM juga memiliki sifat seperti alergi, sehingga risiko terjadinya penyakit ini akan lebih besar apabila kita mengkonsumsi obat-obatan, seperti:

  • Obat anti nyeri NSAID seperti ibuprofen dan aspirin;
  • Antibiotik penisilin, amoxicillin, ampicillin, tetracyclin, sulfonamide;
  • Obat kejang seperti phenytoin;
  • Anestesi seperti obat bius; serta
  • Barbiturat seperti obat anti kecemasan.

Bukan itu saja, imunisasi Tdap atau vaksin hepatitis B juga berpotensi meningkatkan risiko terjadinya penyakit EMM pada seseorang. Kendati demikian, kamu tidak perlu khawatir karena kasus ini termasuk yang sangat jarang ditemui dan memiliki rasio yang sangat kecil.

Tanda dan Gejala Penyakit EMM

Penyakit EMM

Setelah mengenal lebih jauh mengenai penyakit EMM beserta penyebabnya, kini saatnya kita membahas lebih jauh mengenai gejala penyakit yang satu ini.

  • Gejala EMM umumnya ditandai dengan munculnya ruam kulit berbentuk lingkaran berwarna merah muda dengan pusat di tengahnya. Pada awalnya, ruam akan muncul di kulit punggung tangan, meski tak jarang juga muncul di bagian kaki, wajah, dan leher.
  • Jika dibiarkan, ruam yang terdapat di punggung tangan lama kelamaan akan menyebar hingga ke bagian tungkai, sehingga memengaruhi kedua sisi tubuh. Ruam juga bisa membengkak dan terasa seperti menggelepuh.
  • Lepuhan tersebut bisa saja pecah, hingga meninggalkan bekas luka dengan pinggiran putih dan perih. Perlu digarisbawhi juga, bahwasannya ruam kulit bisa muncul dalam waktu 24 jam setelah terjadinya tindakan pemicu.
  • Selain ruam, penyakit EMM biasanya juga diikuti dengan gejala sakit kepala, demam tinggi hingga 38 Celcius lebih, mata merah, sensitif terhadap cahaya, pengelihatan buram, mudah lelah, sakit di bagian persendian, hingga ruam berubah warna jadi kecokelatan.
  • Waspada pula jika terdapat ruam di bagian bibir, bagian pipi dalam, langit-langit mulut, jalur pernapasan (trakea), saluran cerna, dan juga anus. Sebab, ruam-ruam tersebut bisa saja merupakan gejala penyakit EM major. Sedang pada EM minor, gejala yang ditimbulkan hanya berupa gatal di area ruam yang disertai dengan demam ringan.

Nah, setelah kamu tahu gejala dan penyebab EMM, berikutnya kita akan membahas terkait cara pengobatan pasien pengidap EMM. Untuk lebih jelasnya, baca artikel ini sampai selesai ya!

Cara Pengobatan EMM

Penyakit EMM

Apabila gejala penyakit EMM, seperti ruam sudah mulai muncul di area kulitmu, maka segera konsultasikan hal tersebut dengen dokter. Sebab, tak ada cara yang paling efektif dalam mengobati penyakit ini dengan mendapatkan penanganan medis dan obat yang tepat.

Jangan pula mengkonsumsi obat secara sembarangan, sebab penderita penyakit EMM sangat sensitif terhadap pengaruh obat-obatan. Salah-salah, bukannya sembuh penyakit tersebut malah semakin menggerogoti badan.

Perlu diingat, bahwa penanganan penyakit ini dilihat dari faktor pemicunya, berbeda penanganan antara orang pengidap EM karena herpes simplex atau orang yang mengidap EM disebabkan oleh efek samping obat-obatan.

Atas dasar itulah, bagi kamu yang terindikasi mengalami penyakit EMM, ada baiknya periksakan dirimu ke dokter sedini mungkin, agar kamu bisa mengetahui jenis EMM apa yang tengah kamu derita.

Kendati demikian, ada beberapa obat yang bisa digunakan dalam menyembuhkan gejala penyakit EM minor dan EM major, seperti obat anti-histamin, obat pereda nyeri, salep kulit steroid, dan kaopectate.

Konsumsi obat anti-histamin sendiri difungsikan untuk mengurangi rasa gatal pada ruam, sedang salep steroid berguna untuk mengurangi pembengkakan (inflamasi), warna merah pada ruam, serta rasa sakit akibat pembengkakan.

Jika penyebab EMM adalah infeksi virus, maka kamu bisa mengkonsumsi tablet antiviral, serta berkumur dengan obat anestesi yang mengandung zat saline atau anti-hisman untuk meredakan luka yang terdapat di dalam rongga mulut.

Samakah penyakit EMM dan Stevens Johnson Syndrome?

Penyakit EMM

Banyak orang menyangka bahwa penyakit EMM dan Stevens Johnson Syndrome (SJS) merupakan dua penyakit yang sama. Secara harfiah, pengertian SJS memang menyerupai gejala penyakit EMM, yakni adanya kelainan pada kulit, bola mata, rongga mulut, dubur, dan alat kelamin.

Selain itu, baik EMM dan SJS keduanya sama-sama bisa terjadi karena konsumsi obat tertentu, atau adanya infeksi yang disebabkan oleh serangan virus.

Meskipun terdengar mirip, namun nyatanya kedua penyakit ini merupakan dua jenis penyakit berbeda. Stevens Johnson Syndrome sendiri merupakan penyakit yang harus mendapatkan perawatan medis untuk proses penyembuhannya.

Fokus penanganan SJS biasanya terpusat pada menghilangkan penyebab, mengontrol gejala, dan mengurangi komplikasi saat terjadi pergantian kulit pda tubuh.

Berbeda dengan EMM yang biasanya akan hilang secara berangsur-angsur tanpa harus melakukan perawatan medis tertentu. Meski begitu, melakukan konsultasi ke dokter tetap dibutuhkan dalam mengobati gejala tertentu yang diakibatkan oleh EMM.

Dalam beberapa kasus, penyakit EMM bahkan bisa membentuk komplikasi seperti meracuni aliran darah (septikemia), septic shock (ketika tekanan darah menurun hingga level rendah), infeksi kulit (selulit), kerusakan kulit permanen, kerusakan mata permanen, hingga peradangan organ tubuh seperti hati dan paru-paru.

Itu tadi penjelasan lengkap terkait pengertian, penyebab, gejala, pengobatan, hingga perbedaannya dengan penyakit Stevens Johnson Syndrome. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat meningkatkan perhatian kita terhadap penyakit EMM ya!

konsultasi virtual
Related posts
Penyakit A-Z

Bronkitis Akut; Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Penyakit A-Z

Rheumatoid Arthritis: Gejala, Faktor Resiko dan Pengobatan

Penyakit A-Z

Mata Lelah: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan

Penyakit A-Z

Gastroenteritis Pada Dewasa; Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati