Penyakit A-Z

Malaria; Gejala, Penyebab dan Pencegahan

malaria

Malaria adalah suatu penyakit infeksi akut maupun kronik yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang menyerang sel darah merah dan ditandai dengan ditemukannya parasit dalam darah, dengan gejala paling sering berupa demam, menggigil, dan anemia.

Baca Juga:

rapid test

Penyakit ini menyebar lewat gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit. Kasus penyakit malaria di Indonesia masih tergolong tinggi, terutama di bagian timur Indonesia, seperti NTT, Maluku dan Papua. Meski demikian penyakit ini bisa menyerang siapa saja di mana saja karena ditularkan lewat gigitan nyamuk.

Meski tergolong penyakit mudah menular lewat gigitan nyamuk, namun malaria bisa sembuh secara total jika ditangani dengan tepat. Yuk cari tahu lebih banyak mengenai penyakit ini!

Jenis Malaria

Malaria dibagi berdasarkan parasit plasmodium yang ditemukan pada pemeriksaan mikroskopis hapusan darah tebal tipis, yaitu:

  • Malaria falsiparum, disebabkan oleh parasit Plasmodium falsiparum.
  • Malaria vivaks, disebabkan oleh parasit Plasmodium vivax.
  • Malaria ovale, disebabkan oleh parasit Plasmodium ovale.
  • Malaria malariae, disebabkan oleh parasit Plasmodium malariae.
  • Malaria knowlesi, disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi.

Gejala Malaria

Gejala klasik malaria adalah paroksismal, yaitu demam menggigil terutama pada malam hari yang hilang timbul sesuai siklus dan kemudian berkeringat, terjadi setiap dua hari (disebut juga demam tertiana) pada infeksi Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, dan setiap tiga hari (disebut juga demam kuartana) untuk Plasmodium malariae.

Infeksi Plasmodium falciparum dapat menyebabkan demam terus menerus. Malaria berat biasanya disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Gejala malaria falciparum timbul 9-30 hari setelah terinfeksi.

Pada umumnya gejala malaria berupa demam yang hilang timbul; pada saat demam hilang disertai dengan menggigil, berkeringat, dapat disertai dengan sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nafsu makan menurun, sakit perut, mual muntah, dan diare.

Pada saat demam suhu tubuh meningkat dapat sampai di atas 40 derajat celcius, kulit kering, pucat, nadi teraba cepat, nafas menjadi cepat (takipneu). Sementara pada saat meriang dan berkeringat, kulit akan teraba dingin, nadi teraba lemah, dan pada keadaan yang sudah parah dapat terjadi penurunan kesadaran.

Tanda lainnya dapat berupa konjungtiva mata anemis, sklera mata menguning (ikterik), bibir membiru, dan pada malaria serebral dapat ditemukan kaku kuduk. Cara mengetahui kaku kuduk adalah berbaring telentang kemudian mencoba mengangkat kepala tanpa menggerakkan tubuh. Saat terjadi kekakuan di leher, tandanya kaku kuduk positif. 

Selain napas cepat, pada perut dapat juga teraba hepar dan limpa, dapat juga ditemukan penumpukan cairan pada rongga perut (ascites). Produksi urin akan menurun atau urin berubah warna coklat kehitaman. Jika bagian tangan atau kaki mulai teraba dingin, segeralah mencari pertolongan karena hal tersebut merupakan tanda-tanda awal menuju syok.

Bagaimana Cara Pencegahan Malaria?

Salah satu cara mencegah malaria adalah menggunakan profilaksis sebagai upaya melindungi diri dari infeksi malaria jika berada pada daerah endemik malaria. Berdasarkan data Annual Parasite Incidence (API) per provinsi tahun 2016, terdapat 6 besar wilayah yang masih endemis malaria dan masuk ke dalam zona merah; antara lain Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, Maluku Utara, dan Bengkulu.

Profilaksis adalah upaya pencegahan, sehingga infeksi tetap mungkin saja terjadi walaupun sudah menggunakan obat-obat yang direkomendasikan. Perlindungan pribadi terhadap gigitan nyamuk sangat penting, seperti:

  • Gunakanlah kelambu untuk mencegah berbagai gigitan nyamuk. Selain itu, dapat juga digunakan obat pengusir nyamuk bakar / sempor
  • Lotion anti nyamuk sangat efektif dan tidak berbahaya jika digunakan pada kulit, tetapi efek perlindungannya hanya beberapa jam
  • Gunakan baju lengan panjang dan celana panjang setelah senja untuk melindungi terhadap gigitan nyamuk
  • Hindari aktivitas di malam hari khususnya bagi yang tinggal atau bepergian ke daerah endemik malaria

Profilaksis sebaiknya diberikan satu minggu sebelum berkunjung ke daerah endemis. Bila tidak memungkinkan, maka diberikan sesegera mungkin 1 atau 2 hari sebelum masuk daerah endemis. Pemberian profilaksis dilanjutkan sampai 4 minggu setelah keluar dari daerah endemis.

Oleh karena Plasmodium falciparum merupakan spesies yang paling sering ditemukan pada malaria maka profilaksis terutama ditujukan pada infeksi spesies ini. Doksisiklin menjadi pilihan utama untuk profilaksis. Doksisiklin diberikan setiap hari selama 4-6 minggu dan sebaiknya tidak diberikan kepada anak umur < 8 tahun dan ibu hamil.

Profilaksis untuk Plasmodium vivax dapat diberikan klorokuin setiap minggu. Obat tersebut diminum satu minggu sebelum masuk ke daerah endemis sampai 4 minggu setelah kembali. Dianjurkan tidak menggunakan klorokuin tidak lebih dari 3-6 bulan. Sebaiknya temuilah spesialis untuk mengonfirmasi efek samping dan kecocokan kamu untuk penggunaan profilaksis jangka panjang.

Jika Sudah Didiagnosis Malaria, Apakah Wajib Opname?

Tatalaksana malaria lini pertama adalah dengan obat-obatan dan mencegah perburukan kondisi. Sehingga jika sudah terdiagnosis malaria, butuh pengawasan dan monitoring dari dokter terkait.

Jika keadaan tidak parah, pengobatan malaria dapat dilakukan secara rawat jalan dengan pengawasan ketat. Namun jika keadaan memburuk, dokter biasanya akan menganjurkan kamu untuk diterapi di rumah sakit dengan pengawasan yang lebih ketat.

Jika kamu tinggal di daerah endemik malaria dan mengalami gejala-gejala di atas, jangan ragu untuk mengonsultasikannya ke dokter menggunakan Okadoc ya!

Kamu bisa tanya jawab dokter dan konsultasi lewat video call untuk berbagai masalah kesehatan lho! Yuk download aplikasi Okadoc sekarang juga di Play Store dan App Store.

konsultasi virtual
Related posts
Penyakit A-Z

Bronkitis Akut; Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati

Penyakit A-Z

Rheumatoid Arthritis: Gejala, Faktor Resiko dan Pengobatan

Penyakit A-Z

Mata Lelah: Gejala, Penyebab, dan Pencegahan

Penyakit A-Z

Gastroenteritis Pada Dewasa; Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati