Penyakit A-Z

Gastroenteritis Pada Dewasa; Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Gastroenteritis Pada Dewasa

Gastroenteritis (GE) atau dikenal juga dengan diare kronis adalah peradangan mukosa lambung dan usus halus yang ditandai dengan diare dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam. Apabila diare > 30 hari disebut kronis. WHO (World Health Organization) mendefinisikan diare akut sebagai diare yang biasanya berlangsung selama 3-7 hari tetapi dapat pula berlangsung sampai 14 hari.

Baca Juga:

rapid test

Diare persisten adalah episode diare yang diperkirakan penyebabnya adalah infeksi dan mulainya sebagai diare akut tetapi berakhir lebih dari 14 hari, serta kondisi ini menyebabkan malnutrisi dan berisiko tinggi menyebabkan kematian.

Gastroenteritis lebih sering terjadi pada anak- anak karena daya tahan tubuh yang belum optimal. Penyebab gastroenteritis antara lain infeksi, malabsorbsi, keracunan atau alergi makanan dan psikologis penderita.

Faktor Risiko Gastroenteritis Pada Dewasa

  • Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang kurang.
  • Riwayat intoleransi laktosa, riwayat alergi obat.
  • Infeksi HIV atau infeksi menular seksual.

Seperti Apa Gejala Gastroenteritis?

  • Buang air besar (BAB) lembek atau cair, dapat bercampur darah atau lendir, dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam waktu 24 jam. Dapat disertai rasa tidak nyaman di perut (nyeri atau kembung), mual dan muntah serta tegang otot perut. 
  • Setiap kali diare, BAB dapat menghasilkan volume yang besar (asal dari usus kecil) atau volume yang kecil (asal dari usus besar). Bila diare disertai demam maka diduga erat terjadi infeksi. Bila terjadinya diare didahului oleh makan atau minum dari sumber yang kurang  higienenya,  GE dapat disebabkan oleh infeksi.
  • Riwayat bepergian ke daerah dengan wabah diare
  • Riwayat intoleransi laktosa (terutama pada bayi), konsumsi makanan iritatif, minum jamu dan diet cola
  • Konsumsi obat-obatan seperti laksatif, magnesium hidroklorida, magnesium sitrat, obat jantung quinidine, obat gout (kolkisin), diuretika (furosemid, tiazid), toksin (arsenik, organofosfat), insektisida, kafein, metil xantine, agen endokrin (preparat pengantian tiroid), misoprostol, mesalamin, antikolinesterase dan obat-obat diet perlu diketahui.

Bagaimana Cara Mengobati Gastroenteritis?

Pada umumnya  diare  akut  bersifat  ringan  dan sembuh cepat dengan sendirinya melalui rehidrasi dan obat antidiare, sehingga jarang diperlukan evaluasi lebih lanjut. Terapi dapat diberikan dengan

1. Memberikan cairan dan diet adekuat

  • Diberikan cairan yang adekuat untuk rehidrasi.
  • Hindari susu sapi karena terdapat defisiensi laktase transien.
  • Hindari juga minuman yang mengandung alkohol atau kafein, karena dapat meningkatkan motilitas dan sekresi usus.
  • Makanan yang dikonsumsi sebaiknya yang tidak mengandung gas, dan mudah dicerna.

2. Pemberian obat antidiare

Pasien diare yang belum dehidrasi dapat diberikan obat antidiare untuk mengurangi gejala dan antimikroba untuk terapi definitif. Pemberian terapi antimikroba empirik diindikasikan pada pasien yang diduga mengalami infeksi bakteri invasif, traveller’s diarrhea, dan imunosupresi. Antimikroba: pada GE akibat infeksi diberikan antibiotik atau antiparasit, atau antijamur tergantung penyebabnya.

Obat antidiare, antara lain:

  • Turunan opioid: Loperamid atau Tinktur opium.
  • Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan disentri yang disertai demam, dan penggunaannya harus dihentikan apabila diare semakin berat walaupun diberikan terapi.
  • Bismut subsalisilat, hati-hati pada pasien immunokompromais, seperti HIV, karena dapat meningkatkan risiko terjadinya bismuth encephalopathy.
  • Obat yang mengeraskan tinja:  atapulgit 4×2 tablet/ hari atau
  • smectite 3×1 sachet diberikan tiap BAB encer sampai diare stop.
  • Obat antisekretorik atau anti enkefalinase: Racecadotril 3×1

Antimikroba, antara lain:

  • Golongan kuinolonyaitu Siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama 5-7 hari, atau
  • Trimetroprim/Sulfametoksazol 160 / 800 2x 1 tablet/hari.
  • Apabila diare diduga disebabkan oleh Giardia, Metronidazol dapat digunakan dengan dosis 3×500 mg/ hari selama 7 hari.
  • Bila diketahui etiologi dari diare akut, terapi disesuaikan dengan etiologi.

Kondisi Gastroenteritis yang Perlu Evaluasi Lebih Lanjut

Kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut pada diare akut apabila ditemukan:

  • Diare memburuk atau menetap setelah 7 hari, feses harus dianalisa lebih lanjut
  • Pasien dengan tanda-tanda toksik (dehidrasi, disentri, demam ≥ 38,5 derajat C, nyeri abdomen yang berat pada pasien usia di atas 50 tahun
  • Pasien usia lanjut
  • Muntah yang persisten
  • Perubahan status mental seperti lethargi, apatis, irritable
  • Terjadinya outbreak pada komunitas
  • Pada pasien yang immunokompromais.

Pada kondisi yang ringan, diberikan edukasi kepada keluarga untuk membantu asupan cairan. Edukasi juga diberikan untuk mencegah terjadinya GE dan mencegah penularannya.

Jika ada anggota keluarga yang terkena gastroenteritis, penting untuk memenuhi kebutuhan cairan pada orang dengan diare karena dapat menyebabkan syok hipovolemik sebagai komplikasi.

Jika kamu punya pertanyaan lebih lanjut tentang gastroenteritis , jangan ragu untuk mengonsultasikannya ke dokter menggunakan Okadoc ya!

Kamu bisa tanya jawab dokter dan konsultasi lewat video call untuk berbagai masalah kesehatan lho! Yuk download aplikasi Okadoc sekarang juga di Play Store dan App Store.

konsultasi virtual
Related posts
Penyakit A-Z

Gastroenteritis Pada Anak; Gejala dan Cara Mengobati

Penyakit A-Z

Malaria; Gejala, Penyebab dan Pencegahan

Penyakit A-Z

Anemia Defisiensi Besi; Gejala, Penyebab dan Cara Mengobati

Penyakit A-Z

Mengenal Tension Headache atau Sakit Kepala Tegang