Bayi & Anak-AnakKesehatanPenyakit A-Z

Apakah Kecanduan Main Game Termasuk Gangguan Kesehatan Mental?

kecanduan main game

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah menetapkan kecanduan bermain game sebagai salah satu jenis gangguan mental. Gangguan ini disebut sebagai gaming disorder dan telah dimasukkan dalam dokumen klasifikasi penyakit internasional (International Classified Disease/ICD) di urutan ke 11.

Baca Juga:

rapid test

Gaming disorder sendiri didefinisikan sebagai perilaku bermain game secara gigih dan berulang, sampai-sampai mengenyampingkan kepentingan hidup yang lain. Namun tidak semua gamer pasti mengidap gaming disorder lho!

Ada gejala-gejala khusus yang menjadi pertanda jika seorang gamer sudah kecanduan main game dan mengidap gaming disorder.

Gejala Gaming Disorder

kecanduan main game

Selain mengklasifikasikan kecanduan main game sebagai gangguan kesehatan pada mental, WHO juga mengidentifikasi tiga gejala yang menandai terjadinya gaming disorder. Berikut gejalanya :

1. Frekuensi bermain game berlebih

Gejala pertama yang menjadi tanda seseorang mengalami gaming disorder adalah frekuensi bermain gamenya berlebih, baik dari segi durasi ataupun intensitas. Misalnya bermain game selama berjam-jam atau memainkannya setiap hari tanpa jeda.

Biasanya, frekuensi main game yang berlebihan ini jika terus menerus dibiarkan akan memicu munculnya gejala berikutnya yang tergolong lebih serius. 

2. Lebih memprioritaskan bermain game

Dengan frekuensi bermain game yang berlebihan dan diluar batas wajar, lama kelamaan akan membuat seseorang menjadi mengesampingkan aktivitas lainnya. Bermain game adalah kegiatan utama yang harus disempatkan dan diprioritaskan dibanding aktivitas lainnya.

Dalam beberapa kasus, seseorang dengan kecanduan bermain game bahkan mengesampingkan aktivitas pokok yang harusnya tak boleh dilewatkan seperti misalnya belajar, bekerja, bahkan aktivitas yang sangat penting seperti makan dan mandi. 

3. Tidak peduli dengan efek negatif yang muncul

Gejala memprioritaskan bermain game dan mengesampingkan aktivitas penting tentunya tidak boleh dibiarkan lama-lama. Akan menjadi kacau dan berantakan hidup seseorang apabila ia terlalu memprioritaskan bermain game dibanding hal pokok lain bahkan kesehatan dirinya.

Melalaikan waktu belajar dan bekerja tentu saja akan menurunkan produktivitas dan prestasi, lebih parah lagi bila melewatkan begitu saja aktivitas pokok seperti makan dan mandi.

Jika tidak segera dihentikan, maka bisa saja kebiasaan ini akan memicu munculnya penyakit fisik seperti misalnya maag akut yang disebabkan jarang makan dan tak teratur pola makannya, atau penyakit kulit karena jarang mandi.

Bahaya Kecanduan Main Game

kecanduan main game

Gaming disorder di tingkat yang akut membuat seseorang tak peduli akan efek-efek negatif ini dan tetap memprioritaskan kegiatan bermain game. 

Apabila muncul gejala-gejala diatas, maka harus segera dilakukan penanganan. WHO menyarankan proses penyembuhan gaming disorder ini dilakukan melalui arahan psikiater selama kurun waktu kurang lebih 12 bulan tanpa jeda.

Namun, tidak menutup kemungkinan bila proses penyembuhan akan membutuhkan dan memakan waktu yang lebih lama, tergantung pada tingkat keparahan gaming disorder yang dialami. Mengingat dampak yang dibawa cukup serius dan menimbulkan masalah yang kompleks seperti kesulitan bersosialisasi hingga masalah kesehatan, sejumlah negara pun telah merespon masalah kecanduan bermain game ini sebagai sesuatu yang serius.

Misalnya Korea Selatan yang menetapkan bahwa anak-anak berusia dibawah 16 tahun yang mengakses game online antara tengah malam sampai pukul 6 pagi sebagai sesuatu tindakan yang terkategori ilegal.

Negeri Sakura, Jepang, pun menerapkan aturan serupa, yakni dengan mengeluarkan peringatan kepada pengguna game bila telah memainkan game tersebut dan melebihi batas waktu yang diperbolehkan setiap bulannya.

Sementara di China, para perusahaan yang menyediakan akses internet memiliki kebijakan untuk membatasi jam bermain pada game-game yang tengah populer di kalangan anak-anak. 

Keputusan WHO ini tentunya menuai pro kontra, tak hanya di kalangan pecinta game melainkan juga di kalangan para ahli. Killian Mullan, periset dari Universitas Oxford mengutarakan pendapat yang berbeda.

Berdasarkan penelitiannya, ia menemukan bahwa sebenarnya tidak ada yang salah dengan perilaku kecanduan bermain game. Ia justru menganggap bahwa anak dan remaja yang kecanduan game ini justru berhasil menyinergikan antara dunia digital dengan realitas sehari-hari. Opini Mullan ini sejalan dengan klasifikasi game sebagai cabang dari e-Sport.

Layaknya olahraga pada umumnya, mereka yang menjadi atlet e-Sport tentu diharuskan memiliki kondisi fisik yang fit dan bugar serta tercukupi kebutuhan nutrisinya. Sebab, bermain game cukup menguras pikiran dan tenaga karena harus memikirkan strategi bermain yang akan digunakan.

Namun tetap saja, bermain game tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik serta sosial bukanlah sesuatu yang baik. 

Tips Agar Anak Tidak Kecanduan Game

kecanduan main game

Sebagai orangtua, tentunya menjadi sesuatu yang wajar bila kita memiliki kekhawatiran tersendiri apabila anak kita terlalu sering bermain game. Agar anak tidak kecanduan bermain game, berikut beberapa hal yang bisa kamu coba lakukan.

a1. Ajak anak mengobrol dan dengarkan ceritanya

Banyak orangtua yang bersikap underestimate dengan menganggap bahwa anak masih belum paham apa yang orang dewasa katakan, sehingga tidak pernah melibatkannya dalam obrolan. Atau, pada beberapa kasus tertentu, orangtua justru tidak senang ketika anaknya menceritakan sesuatu karena tidak sabar memahami ucapannya yang kerap bertele-tele atau kurang jelas.

Padahal, kedua perilaku ini tentu akan mengganggu bonding antara orangtua dan anak. Sebagai orangtua, ada baiknya bila kita selalu melibatkan anak dalam percakapan dan mendengarkan omongan mereka secara sabar dan menaruh perhatian penuh serta meresponnya dengan cara-cara yang baik.

Dengan begitu, anak akan lebih tertarik untuk menghabiskan waktunya mengobrol bersama orangtua dibanding sibuk sendiri dengan gamenya.

2. Libatkan anak dalam pekerjaan rumah yang menyenangkan

Jangan anggap pekerjaan rumah sebagai beban. Anggaplah pekerjaan rumah sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menimbulkan perasaan gembira apabila berhasil diselesaikan. Libatkanlah anak untuk melakukan pekerjaan rumah dan ciptakan suasana yang riang agar anak tidak merasa terbebani.

Jangan menerapkan standar yang terlalu tinggi, wajar bila anak masih belum bisa menyelesaikan pekerjaan rumah secara optimal, misalnya belum bisa menyapu terlalu bersih. Yang terpenting, anak menjadi senang saat mengerjakan pekerjaan rumah, sehingga kedepannya apabila memiliki waktu luang maka ia akan berinisiatif untuk melakukan pekerjaan rumah alih-alih sibuk berkutat dengan permainan digitalnya. 

3. Ajak anak melakukan kegiatan outdoor yang seru

Apabila ada waktu luang yang cukup, maka sesekali ajaklah anak ke tempat-tempat seru di luar rumah untuk melakukan kegiatan-kegiatan outdoor yang menyenangkan. Seperti misalnya pergi berkemah, berlibur ke taman bermain, berenang, dan lain sebagainya.

Tak perlu yang mengeluarkan banyak biaya, kegiatan sederhana seperti berkemah di halaman rumah dan masak barbeque bersama keluarga tentu akan menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi anak hingga ia tak lagi tertarik bahkan untuk sekedar menyentuh gadget-nya.

konsultasi virtual
Related posts
Kesehatan

Kebiasaan Buruk Saat Hari Raya Yang Harus Dihindari

Bayi & Anak-AnakKesehatan

Apa Obat Sakit Gigi Anak yang Manjur?

KesehatanPriaWanita

7 Kebiasaan Buruk Saat Puasa yang Tidak Baik Bagi Kesehatan

KesehatanPriaWanita

6 Tips Agar Tetap Sehat Saat WFH Sambil Puasa