Kesehatan

9 Bahaya Stres yang Berlebihan

Bahaya Stres yang Berlebihan

Seiring perkembangan zaman, semakin banyak orang yang mengeluh mengalami stres. Alasannya pun beragam, mulai dari masalah ekonomi, tuntutan pekerjaan, putus cinta, hingga permasalahan kecil seperti terjebak macet. Menurut penelitian, tingkat stres masyarakat global naik beberapa tahun terakhir, terutama masyarakat yang hidup di daerah perkotaan. Artinya semakin banyak orang yang mengalami stres dan diprediksi akan terus bertambah.

Baca Juga:

rapid test

Mengalami stres dalam tahap ringan mungkin akan membantu produktivitas, namun jika stres terus menerus ditumpuk dan masuk ke tahap kronis, justru akan memiliki efek negatif mulai masalah mental hingga masalah fisiologis. Beberapa bahaya stres antara lain sebagai berikut;

1. Masalah sistem saraf dan kondisi emosi

Kondisi emosi seseorang sangat berkaitan dengan sistem saraf. Di dalam tubuh sendiri, sistem saraf pusat yang mengatur respon stres. Saat stres muncul, otak melalui hipotalamus akan memerintahkan kelenjar adrenalin untuk melepaskan hormon stres adrenalin dan kortisol.

Kedua hormon ini berfungsi untuk mengirim darah ke daerah-daerah yang paling membutuhkannya dalam keadaan darurat, efek yang timbul seperti peningkatan detak jantung, pernapasan lebih cepat, pelebaran pembuluh darah, dan kadar gula darah meningkat.

Saat rasa takut sudah hilang, hipotalamus di dalam otak akan memerintahkan semua sistem untuk kemabli normal. Jika sistem saraf gagal kembali normal karena pemicu stres masih berlanjut, maka respon akan terus berlanjut.  Hal tersebut akan mengakibatkan beberapa efek seperti cemas, khawatir, marah, serta kondisi fisiologis seperti sakit kepala dan insomnia.

2. Kehidupan seksual terganggu

Melalui berbagai penelitian, kondisi stres dapat mempengaruhi kehidupan seksual seseorang. Gairah seksual seseorang akan mengalami penurunan jika sedang dilanda stres. Pada pria, kondisi stres sebenarnya tidak mempengaruhi produksi sperma dan hormon testosteron, bahkan bagi sebagian pria akan semakin banyak produksi sperma dan hormon testosteron.

Namun, jika kondisi stres berlangsung dalam waktu yang lama dan terus menerus, kadar sperma dan hormon testosteron  pria dapat turun. Hal ini dapat menyebabkan disfungsi ereksi atau impotensi. Stres kronis juga dapat meningkatkan terjadinya penyakit pada organ reproduksi pria pada bagian prostat dan testis.

Sementara pada wanita, kondisi stres akan mempengaruhi siklus menstruasi. Ada beberapa kemungkinan antara lain mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, tidak mengalami menstruasi sama sekali, dan menstruasi yang dialami menjadi lebih berat.

3. Sistem kekebalan tubuh terganggu

Saat mengalami kondisi stres, sistem kekebalan atau imunitas tubuh akan mulai bekerja. Hal ini dapat membantu anda untuk menghindari infeksi dan menyembuhkan luka atau penyakit. Namun, jika stres terjadi secara berlarut-larut, hormon stres berupa kortisol akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dengan memperlambat pelepasan histamin dan respon peradangan untuk melawan zat asing. 

Oleh karena itu, orang yang mengalami stres cenderung lebih mudah terserang penyakit seperti influenza, demam, dan penyakit infeksi lainnya. Selain itu, proses penyembuhan akan lebih lama jika seseorang mengalami stres.

4. Kemungkinan penyakit jantung

Stres dapat mempengaruhi kinerja jantung, karena selama mengalami  stres, detak jantung akan menjadi lebih cepat. Kerja jantung akan meningkat dan pembuluh darah akan melebar. Pada kondisi stres, darah perlu dialirkan secara cepat ke seluruh tubuh, terutama organ-organ vital seperti hati dan otak. Hal ini menyebabkan meningkatnya volume darah yang dipompa ke seluruh tubuh dan meningkatnya tekanan darah. 

Jika mengalami stres terus menerus, otomatis detak jantung dan tekanan darah  akan meningkat secara konsisten. Sehingga, resiko untuk terkena hipertensi, serangan jantung, atau stroke akan meningkat.

5. Masalah pernapasan

Stres dapat mempengaruhi pernapasan seseorang. Selama respon stres, tubuh akan berusaha mengalirkan darah yang kaya akan oksigen ke seluruh tubuh. Oksigen dibutuhkan dalam jumlah besar, cara untuk mendapatkannya adalah dengan menambah intensitas pernapasan.

Hal ini tidak menjadi masalah, tetapi akan menjadi masalah bagi orang yang mempunyai asma. Orang dengan asma akan susah bernapas bila dihadapkan dengan stres. Selain itu bernapas terlalu cepat atau hiperventilasi dapat menyebabkan serangan panik bagi sebagian orang.

6. Mengalami nyeri otot

Otot-otot akan menegang saat stres untuk melindungi diri dari cedera saat stres. Saat kondisi kembali normal, otot-otot akan meregang dan kembali menjadi rileks. Namun, jika stres yang dialami berlarut-larut, maka otot tidak mempunyai waktu untuk rileks. Sehingga otot-otot yang selalu tegang akan menimbulkan nyeri atau sakit seperti sakit kepala, nyeri punggung, dan nyeri di seluruh tubuh.

7. Masalah sistem pencernaan

Saat stres, kadar gula di dalam darah akan meningkat. Hal ini bertujuan untuk menambah energi tubuh. Gula darah yang tidak terpakai akan diserap kembali oleh tubuh. Jika terus menerus terjadi, tubuh tidak akan mampu menyimpan glukosa yang berlebih. Sehingga seseorang dapat mengalami peningkatan resiko penyakit diabetes tipe 2.

Dilansir dari Healthline, stres dapat mempengaruhi pola makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya. Selain itu, resiko mengalami refluks asam, mual, dan muntah akan meningkat. Stres juga dapat mempengaruhi pergerakan makanan sehingga dapat menimbulkan diare.

8. Kesehatan kulit terganggu

Hormon adrenalin yang diproduksi ketika stres akan menimbulkan jerawat dan memperlambat produksi kolagen. Hal ini akan menimbulkan bekas pada kulit dan keriput yang sulit hilang.

9. Rambut rontok

Dilansir dari Huffington Post, menurut Dr. Lauren Ploch, rambut rontok karena stres terjadi karena folikel rambut didorong untuk beristirahat dan menyebabkan rambut mulai rontok dan terjadinya penipisan rambut.

Melihat berbagai efek di atas, tak mengherankan stres dianggap sebagai penyebab kematian dini. Memang kehadiran stres di dalam hidup tidak dapat dihindari, karena stres sendiri merupakan bagian dari hidup. Namun jangan sampai membiarkan stres menguasai kehidupan ya.

Sebaiknya stres harus dihadapi dan dikelola, karena tidak dapat dipungkiri, stres juga memiliki dampak positif. Berlatih untuk mengurangi dan menghilangkan stres bukan sebuah ide buruk. Fokus pada penyelesaian suatu masalah bukan dengan menghindarinya dapat menghilangkan strss. Bila stres terus terjadi, lebih baik menemui dokter ahli untuk dimintai pendapat.

konsultasi virtual
Related posts
Kesehatan

Kebiasaan Buruk Saat Hari Raya Yang Harus Dihindari

Bayi & Anak-AnakKesehatan

Apa Obat Sakit Gigi Anak yang Manjur?

KesehatanPriaWanita

7 Kebiasaan Buruk Saat Puasa yang Tidak Baik Bagi Kesehatan

KesehatanPriaWanita

6 Tips Agar Tetap Sehat Saat WFH Sambil Puasa